Hanya dan Akan Tetap Menjadi Si Kecilmu
Semua berawal dari masa orientasi kita. Ups. Tidak tidak. Hanya aku dan kamu. Bukan kita. Saat itu aku duduk tak jauh darimu. Awalnya aku takut denganmu, karena saat aku tak sengaja melihatmu kau menatapku dengan tatapan khasmu sehingga aku berfikir terkutuklah aku mempunyai teman sekelas sepertimu.
Seminggu setelah itu, aku tak lagi memperhatikanmu. Saat aku mengecek sosial mediaku, aku melihat nama yang tak asing di telingaku. Ku lihat dan ku buka profilemu, dan aku mencoba untuk menyapamu. Hei! Tak kuduga! Kau lebih menyenangkan dari yang ku kira! Mulai saat itulah aku merasa asik denganmu. Tiap ku buka sosial mediaku, semua notifikasi penuh olehmu.
“vi, tadi ada pr apa deh?” kata seseorang dari belakangku
“itu.. hmm.. disuruh nyari sejarah” kataku bingung
Siapa lelaki itu? Mengapa dia mengenalku? Aku tak mengenalnya. Eh tunggu dulu, satu satunya lelaki di kelas yang mengenalku adalah dia. Sebut saja rendi. Dan dugaanku benar! Dialah rendi! Orang yang menakutiku dengan tatapannya dan orang yang selalu ada di notifikasiku!
Semenjak kejadian itu, kita semakin akrab. Tak hanya di sosial media. Tapi juga di dunia nyata. Aku mengagumimu. Tapi kupikir kau tak perlu tau. Aku nyaman dan menyukai posisiku saat ini.
Hari ini kami belajar di ruang praktek, karena aku telat datang, dengan terpaksa aku duduk di belakang. Kupikir aku yang datang terakhir. Ternyata kau juga baru masuk. Dan dugaanku benar. Kau duduk tepat di sampingku. Karena bangku yang tersisa hanya di sampingku. Ada saja yang kau lakukan saat itu, entah mengambil sepatu orang. Menggerak-gerakan pulpenku. Dan entah sudah berapa kali aku ditegur oleh guruku karena ulahmu. Sampai kau sengaja menggerakkan tanganku hingga menimbulkan coretan yang lumayan fatal
“ish.. rendiii… lo mah ah nyebelin. Gue udah nulis rapi rapi juga” kataku
“iya.. iya. maap” sambil terus tertawa
“bodo”
“yah cil. Maap”
“serah lo”
“cil”
“bodo. Ren. Bodo amat”
“yah.. kecilll maaf” sambil mengusap kepalaku
Aku langsung terdiam saat itu. Bagaimana tidak? Siapa yang tak bahagia jika orang yang kau cintai melakukan hal itu tanpa kau duga sebelumnya.
Dan tak terasa esok adalah hari pertama kita menjalani ujian tengah semester.
Saat menjelang ujian berlangsung..
“via, pinjem handphone lo dong” ucapnya
“enggak ah. Buat apaan sih?”
“udah pinjem aja.” Sambil merebut hp yang sedari tadi ku genggam
“nih, udah gue invite pin bbm gue” katanya sambil menyerahkan hpku
Saat ujian sedang berlangsung, kurasakan handphone di kantongku bergetar. Ku buka dan terlihat “Rendi: Pingg!!” awalnya tak kuhiraukan. Tapi kau terus melakukan itu. Karena aku terganggu, kubalas dengan cepat “Berisik lo! Kerjain aja itu soal -_-”
Chat kita pun tak berhenti sampai malam hari. Entah sudah berapa banyak kata kata aneh yang kita keluarkan seharian itu. Sampai aku iseng mengajakmu bermain truth or dare..
“sekarang gantian lo! ToD? :p” katanya
“ehmm.. truth deh”
“siapa sih orang yang lo suka? Lo kalo cerita gak pernah nyebut nama sih -_-”
Deggg… orang itu elo ren!! Elo!
“mau tau banget? :p” jawabku
“udah sih gece jawab napa -_-”
“enggak ah”
“via. Jawab. Kan tadi lo milih truth.”
“itu elo. Udah kan? Udah puas?”
“ha? Lo serius?”
“au ah serah lo -_-”
Semenjak saat itu kita berubah. Ini adalah hari terakhir ujian kita. Saat tiba di sekolah, aku tak langsung menuju ruangan ujianku. Aku takut jika bertemu denganmu. Aku takut tak dapat menahan semua yang kurasakan. Kudengar bel ujian pertama telah berdering. Dengan sangat berat ku langkahkan kakiku menuju ruangan itu. Baru ku langkahkan kaki kananku, kulihat dirimu dengan sweater abu-abu favoritmu berada di pojok ruangan dengan mata tertuju padaku.
‘sepertinya ToD kemarin membawa masalah’ batinku
Bel tanda ujian pertama telah berdering. Aku tak ingin melangkahkan kakiku kemana pun. Badanku terasa sangat berat untuk bangkit jika aku mengingat kejadian semalam hingga tadi pagi.
“eh cil, lo kalo dipanggil tuh nengok napa. Nanti kalo diping terus-terusan lo nya marah lagi” katanya
“eh.. iya iya bawel. Tapi itu gak usah dimainin juga kali” kataku saat melihat dia memainkan gantungan tasku
Aku mengenalmu ren. Walaupun kamu tetap dengan kejailanmu. Tapi kali ini kamu berbeda. Kamu sangat berbeda. Dan aku bisa merasakannya rendi.
Ujian telah berakhir. Kini kelas kembali dengan kegiatan semula. Hari ini seperti hari biasanya, aku lebih memilih membawa makanan untuk makan siangku. Saat bel istirahat berbunyi langsung kubuka tempat makanku. Saat setelah satu suap makanan masuk ke dalam mulutku. Tiba-tiba ada yang mengambil sendokku. Kulihat siapa yang berani menggangguku.
“boleh minta gak?” katamu
Tanpa menunggu responku, kau langsung memakannya. Saat kau menyadari keberadaanku, tiba-tiba kau mengambil sesendok nasiku
“nih makan” katanya sambil bergaya ingin menyuapi ku
“enggak ah. Udah makan aja” kataku
Duh viaa.. lo bodoh banget sih kenapa tadi lo tolak suapan dia -_-
Hari ini sekolah mengadakan city tour. Huh. Sebenarnya aku sangat membenci kegiatan ini. Tapi ada sedikit keuntungan, dengan begini aku tak mengikuti pelajaran guru killer. Awal tujuan memang sangat membosankan. Tapi begitu sampai di tujuan kedua, disitulah keasyikan mulai terjadi. Saat sudah asyik berfoto serta bergila ria, kami harus melanjutkan perjalanan. Saat ingin menaiki bus. Ku lihat kau memegang sebuah minuman.
“ren. Minta minum lo dong. Haus nih gue” kataku
“nih. Udah buat lo”
“beneran? Ikhlas gak?”
“iya bawel”
Kebahagiaanku kali ini belum berakhir. Saat sudah berada di dalam bus, layaknya orang aneh kita berbicara dengan aku di depan dan kau di belakang. Tanpa ku sadari, ternyata ada yang memperhatikan kita. Dia. Mantanmu yang baru saja kau putuskan beberapa hari yang lalu. Saat tiba di tujuan terakhir ternyata kami diberi waktu yang lama. Sekitar 2 jam. Kali ini aku dan 2 temanku memang sengaja mengikuti arah kaki kau dan teman temanmu. Saat sedang asyik. Aku menemukan sesuatu yang bagus untuk difoto.
“ren. Kameranya deh pinjem” kataku sambil berusaha mengambil kamera yang ia pegang. Eh tunggu dulu, mengapa kau malah memegang tanganku? Aku hanya meminta kamera. Bukan yang lain. Karena aku tau ini hal buruk, langsung ku tarik tanganku dengan cepat.
Hari ini aku, kamu dan teman teman kita memutuskan untuk jalan bersama mencari sebuah baju. Tapi, sudah pasti kata telat akan menghampirimu. Karena terlalu bosan, akhirnya ku putuskan untuk pergi duluan. Saat aku sudah ingin pulang, tiba tiba kau datang dengan ajaib.
“eh vi. Lo mau pulang kan? Sini naik. Gue anter sampe sekolah” kata temanku
“udah sih. Lo duluan aja. Biar dia nanti sama gue” kata rendi
Dan akhirnya dengan sedikit terpaksa aku dan temanku menemaninya. Saat sudah lelah berkeliling tibalah saatnya pulang. Awalnya aku ingin bersama temanku yang lain. Tapi dia sudah membonceng temanku. Dan dengan sangat terpaksa aku menaiki motor rendi. Hal yang aku pikirkan saat itu adalah ‘aku ingin cepat turun dari motormu ren..’
“mau dianter sampe mana?” tanyanya membuatku tersadar dari lamunanku
“terserah”
“serius. Mau dianter sampe mana?”
“ya terserah lo ren, lo mau nganter gue sampe mana”
“kalo gue anter sampe rumah gue jangan salahin gue ya”
Deggg… Lagi… lagi.. dan lagi kau membuatku terdiam.
Tak terasa, esok adalah ujian akhir semester. Seperti biasanya, tak ada persiapan khusus yang kulakukan. Hanya diam dengan hp di tanganku. Ku lihat jadwal ujian dan sejenak teringat dengan perkenalan kita yang pertama kalinya..
Hari pertama.. kedua.. dan ketiga berjalan seperti biasa. Namun di hari keempat ujian…
“eh tolong ambilin itu dong” kataku
“makanya, punya badan jangan kecil kecil” katamu meledek
“ya udah sih kalo gak ikhlas” kataku mulai jutek
Bel tanda ujian kedua pun dimulai. Aku hanya berdoa dalam hati. Semoga ada keajaiban untuk mengerjakan soal ini. Saat pengawas memasuki ruangan dan mulai membagikan soal. Langsung kubuka soal itu. Dan… ‘pasti tak akan jauh dari remedial’ kataku dalam hati
Waktu pun terus berjalan. Sampai bel tanda ujian berakhir pun berdering. Ku lihat kau yang berada 2 bangku di depanku bangkit dan menghadap kearahku.
“udahan?” tanyaku namun kau hanya terdiam
“udah selesai?” tanyaku lagi
“ha.. apaan?” tanyanya
“lo udah selesai ngerjain?”
“gue Cuma ngerjain pilihan gandanya” katanya
Setelah percakapan singkat itu aku kembali dengan soalku. Ku lirik. Ternyata kau masih disitu menghadapku. ‘ren. Pergilah. Jangan kau menatapku seperti itu’
Tidak ada komentar:
Posting Komentar